Archive for September, 2011

Pada hari Jum’at tanggal 09 November 20120 pukul 23.00 saya dan seluruh rekan saya di THP berangkat fieldtrip ke Pelabuhan Perikanan Nasional (PPN) Pelabuhan Ratu Sukabumi. Beberapa tempat yang dikumjungi adalah tempat pelelangan ikan Pelabuhan Ratu , Ruang Seminar KKP, PT Jaya Mitra,  PT AGB, Pemindangan Hj. Iroh,  Tempat Pembesaran Lobster Hj. Badri, dan Budidaya dan Pengolahan Ikan Sidat di SLK (Stasiun Lapang Kelautan).

Disana kami melakukan beberapa prosedur kerja dalam melaksanakan praktek lapang seperti pengumpulan data primer, diantaranya observasi, wawancara, dan tanya jawab. prosedur lainnya seperti pengumpulan data sekunder dan pengumpulan data informasi dari data perusahaan.

Jenis-jenis ikan yang ada di pelabuhan ratu

berdasarkan wawancara terhadap pedagang yang kami lakukan di TPI (tempat pelalngan ikan ) Pelabuhan Ratu, kami menemukan beberapa jenis ikan diantarnya adalah ikan tongkkol, ikan layur, ikan kepe-kepe, ikan kakap kecil, ikan tuna, dan ikan cakalang. Ikan yang terdapat disana sebagian besat ditangkap dari perairan sekitar Pelabuhan Ratu. Alat tangkap yang biasa digunakan bermacam-macam diantaranya menggunakan jaring dan alat pancing. Alat tangkap yang sering digunakan adalah menggunakan jaring. Proses transportasinya adalah pertama ikan yang ditangkap oleh nelayan menggunakan alat pancing kemudian dibawa keatas kapal diberi penanganan yang baik seperti pencucian ikan menggunakan air laut, setelah itu ikan dimasukkan kedalam box berisi es yang suhunya sudah di sesuaikan agar ikan tidak mengalami kemunduran mutu saat sampai ke darat. Ikan yang sudah dimasukkan box dibawa ke pelelangan kemudian terjadi tawar-menawar antara nelayan dengan pengecer. Jika tawar-menawar seledai, para pedagang ecer menjajahkan dagangannya lalu terjadilah jual bli antar pengecer dengan konsumen.

Menurut pedagang yang kami wawancarai, mereka mengatakan bahwa ikan yang mereka jajahkan tersebut diambil langsung dari tangan para nelayan. Kendala yang dihadapi oleh para pedagang adalah pembeli. Ikan yang lebih banyak dibeli dan cepat laku adalah ikan layur.

1. ikan kakap

ikan kakap adalah ikan yang mempunya toleransi yang cukup besat terhadap kadar garam (Euryhaline) dan merupakan ikan katadromous (dibesarkan di air tawar dan kawin di air laut). Sifat-sifat inilah yang menyebabkan ikan kakap dapat dibudidayakan di laut, tambak, maupun air tawar. Ikan kakap putih termasuk dalam famili Centroponidae, secara lengkaptaksonominya. Ciri-ciri kakap merah (Latjanus sp) mempunyai tubuh yang memanjang dan melebar gepeng atau lonjon, kepala cembung atau sedikit cekung. Jenis ikan ini umumnya bermulut lebar dan agak menjorok ke muka, gigi konikel pada taring-taringnya tersusun dalam satu atau dua baris dengan serangkaian gigi caninya yang berada pada bagian depan. Ikan ini mengalami pembesaran dengan bentuk segitiga mauupn penajaman. Bagian bawah pra penutup insang bergerigi dengan ujung berbentuk tonjolan yang tajam. Sirip punggun dan sirip duburnya terdiri dari jari-jari keras dan jari-jari lunak. sirip punggun umumnya berkesinambungan  dan berlekuk pada bagian antara yang berdurieras dan bagian yang berduri lunak. Batas belakang ekornya agak cekung dengan kedua ujung sedikit tumpul. Warna sangat bervariasi, mulai dari yang kemerahan, kekunigan, kelabu hingga kecokelatan. Pada umumnya berukuran panjang antara 25-50 cm, walaupun tidak jarang mencapai 90 cm (Gunarso 1995). ikan kakap merah menerima berbagai informasi mengenai keadaan sekelilingnya melalui beberapa inderanya. seperti melalui indera penglihatan,, pendengaran, penciuman, peraba, linea lateralis dan sebagainya.

Menurut Effendi (1997), makanan merupakan faktor pengedali yang penting dalam menghasilkan ikan disuatu perairan, karena merupakan faktor yang menetukan bagi  populasi, pertumuuhan dan kondisi ikan disuatu perairan. Di alam terdapat berbagai jenis makanan yang tersedia bagi ikan dan ikan telah menyesuaikan diri dengan tipe makanan khusus dan telah dikelompikkan secara luas sesuai dengan cara makannya, walaupun dengan macam-macam ukuran dan umur ikan itu sendiri (Nikolsky 19630).

Menurut Moyle dan Chech (1988), ikan dapat dikelompokkan berdasarkan jumlah dan variasi makanannya menjadi euryphagous yaitu ikan yang memakan berbagai jenis makanan; stenophagous yaitu ikan yang memakan makanan yang sedikit jenisnya; dan monophagous yaitu ikan yang hanya memakan satu jenis makanan saja. Menurut Effendi (1997), kebiasaan makanan adalah jenis, kuantitas dan kualitas makanan yang dimakan oleh ikan, sedangkan kebiasaan cara makan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan waktu, tempat dan bagaimana cara ikan memperoleh makanannya. Effendi (1997) menambahkan bahwa faktorfaktor yang menentukan suatu jenis ikan akan memakan suatu jenis oeganisme adalah ukuran makanan, ketersediaan makanan, warna, rasa, tekstur makanan dan selera ikan terhadap makanan.

Selanjutnya dikatakan bahwa faktor yang mempengaruhi jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi oleh suatu spesies ikan adalah umur, tempat dan waktu. Jenis ikan kakap umumnya termasuk ikan buas, karena pada umumnya merupakan predator yang senantiasa aktif mencari makan pada malam hari (nokturnal). Aktivitas ikan nokturnal tidak seaktif ikan diurnal (siang hari).Gerakkannya lambat, cenderung diam dan arah geraknya tidak dilengkapi area yang luas dibandingkan ikan diurnal.Diduga ikan nokturnal lebih banyak menggunakan indera perasa dan penciuman dibandingkan indera penglihatannya. Bola mata yang besar menunjukkan ikan nokturnal menggunakan indera penglihatannya untuk ambang batas intensitas cahaya tertentu, tetapi tidak untuk intesitas cahaya yang kuat (Iskandar dan Mawardi 1997).

Ikan kakap lebih suka memangsa jenis-jenis ikan. Adapun mangsa lain berupa jenis kepiting, udang, jenis crustacea, gastropoda serta berbagai jenis plankton utamanya urochordata. Umumnya kakap merah yang berukuran besar, baik panjang maupun tinggi tubuhnya, memangsa jenis-jenis ikan maupun invertebrata berukuran besar yang ada di dekat permukaan di perairan karang.Jenis kakap merah ini biasanya menghuni perairan pantai berkarang hingga kedalaman 100 meter, hidup soliter dan tidak termasuk jenis ikan yang berkelompok.Mereka umumnya dilengkapi dengan gigi kanin yang merupakan adaptasi sehubungan dengan tingkah laku makannya, agar mangsa tidak mudah lepas.

Ikan kakap tergolong diecious yaitu ikan ini terpisah antara jantan dan betinanya. Hampir tidak dijumpai seksual dimorfisme atau beda nyata antara jenis jantan dan betina baik dalam hal struktur tubuh maupun dalam hal warna. Pola reproduksinya gonokorisme, yaitu setelah terjadi diferensiasi jenis kelamin, maka jenis seksnya akan berlangsung selama hidupnya, jantan sebagai jantan dan betina sebagai betina. Jenis ikan ini rata-rata mencapai tingkat pendewasaan pertama saat panjang tubuhnya telah mencapai 41–51% dari panjang tubuh total atau panjang tubuh maksimum. Jantan mengalami matang kelamin pada ukuran yang lebih kecil dari betinanya.

Kelompok ikan yang siap memijah, biasanya terdiri dari sepuluh ekor atau lebih, akan muncul ke permukaan pada waktu senja atau malam hari di bulan Agustus dengan suhu air berkisar antara 22,2–25,2ºC. Ikan kakap jantan yang mengambil inisiatif berlangsungnya pemijahan yang diawali dengan menyentuh dan menggesek-gesekkan tubuh mereka pada salah seekor betinanya. Setelah itu baru ikan-ikan lain ikut bergabung, mereka berputar-putar membentuk spiral sambil melepas gamet sedikit di bawah permukaan air. Secara umum ikan kakap merah yang berukuran besar akan bertambah pula umur maksimumnya dibandingkan yang berukuran kecil. Ikan kakap yang berukuran besar akan mampu mencapai umur maksimum berkisar antara 15–20 tahun, umumnya menghuni perairan mulai dangkal hingga kedalaman 60–100 meter (Gunarso 1995).

Ikan kakap umumnya menghuni daerah perairan karang ke daerah pasang surut di muara, bahkan beberapa spesies cenderung menembus sampai ke perairan tawar.Jenis kakap berukuran besar umumnya membentuk gerombolan yang tidak begitu besar dan beruaya ke dasar perairan menempati bagian yang lebih dalam daripada jenis yang berukuran kecil. Kakap merah biasa tertangkap pada kedalaman dasar antara 40–50 meter dengan substrat sedikit karang dan salinitas 30–33 ppt serta suhu antara 5- 32ºC (Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan 1991). Jenis yang berukuran kecil seringkali dijumpai beragregasi di dekat permukaan perairan karang pada waktu siang hari. Pada malam hari umumnya menyebar guna mencari  makanannya baik berupa jenis ikan maupun crustacea. Ikan-ikan berukuran kecil untuk beberapa jenis ikan kakap biasanya menempati daerah bakau yang dangkalatau daerah-daerah yang ditumbuhi rumput laut.Potensi ikan kakap merah jarang ditemukan dalam gerombolan besar dan cenderung hidup soliter dengan lingkungan yang beragam mulai dari perairan dangkal, muara sungai, hutan bakau, daerah pantai sampai daerah berkarang atau batu karang.

2. Ikan Tongkol

Ikan Tongkol Menurut Saanin (1968), klasifikasi Ikan Tongkol adalah sebagai berikut:
Kingdom
         : Animalia
Phylum
            : Chordata
Sub Phylum
     : Vertebrata
Class
                : Pisces
Sub Class
        : Teleostei
Ordo
                : Percomorphi
Family
             : Scombridae
Genus
              : Euthynnus
Species
            : Euthynnus affinis

 

 

 

Ikan tongkol terklasifikasi dalam ordo Goboioida, family Scombridae, genus Euthynnus, spesies Euthynnus affinis. Ikan tongkol masih tergolong pada ikan Scombridae, bentuk tubuh seperti betuto, dengan kulit yang licin .Sirip dada melengkung, ujngnya lurus dan pangkalnya sangat kecil. Ikan tongkol merupakan perenang yang tercepat diantara ikan-ikan laut yang berangka tulang. Sirip-sirip punggung, dubur, perut, dan dada pada pangkalnya mempunyai lekukan pada tubuh, sehingga sirip-sirip ini dapat dilipat masuk kedalam lekukan tersebut, sehingga dapat memperkecil daya gesekan dari air pada waktu ikan tersebut berenang cepat. Dan dibelakang sirip punggung dan sirip dubur terdapat sirip-sirip tambahan yang kecil-kecil yang disebut finlet. (T. Djuhanda 1981).

 

Menurut Soesanto (1974), Ikan Tongkol merupakan salah satu jenis ikan pelagis artinya hidup di lapisan atas dari suatu perairan. Bentuk badanya memanjang yang kedua ujungnya meruncing, mempunyai dua sirip punggung dan 7-8 finlet. Dari bentuk ikan adanya dua sirip punggung dan banyaknya  finlet ini menujukan ikan tongkol termasuk jenis ikan perenang cepat.

 

Ikan tongkol merupakan penghuni hampir seluruh perairan asia. Di indonesia, ikan ini banyak membentuk gerombolan-gerombolan besar terutama di perairan indonesia timur dan samudra Indonesia. Termasuk ikan pelagis perenang cepat sehingga untuk menangkapnya alat yang di gunakan harus di operasikan dengan kecepatan yang memadai (kriswanto 1986).

 

Ikan tongkol merupakan salah satu sumberdaya hayati laut di Indonesia yang memiliki potensi ekonomi cukup baik di pasaran, begitu juga di kawasan perairan Pelabuhan Ratu. Akan tetapi saat ini belum ada pengkajian yang lengkap mengenai berbagai aspek potensi atau persediaan ikan tongkol tersebut.

 

Alat tangkap payang di Pelabuhan Ratu menangkap ikan-ikan pelagis terutama dari jenis-jenis tongkol (Auxis Sp.), ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) merupkan hasil tangkapan yang terbesar dan pada umumnya tertangkap sepanjang tahun. Ikan tongkol abu-abu tertangkap sepanjang tahun, sdangkan hasil tangkap maksimum terjadi antara bulan Mei-November. Jenis tongkol yang lain adalah Lisong (bahasa nelayan Pelabuhan Ratu).

 

Ikan yang paling banyak ditemui di tempat pelelangan ikan pelabuhan ratu adalah ikan tongkol, karena hasil tangkapan bias sampai 1 ton per hari. Ikan tongkol ini dijual sampai 1 minggu, selama waktu penjualan tersebut ikan diawetkan dengan menggunakan es.

 

Ikan Kepe-Kepe

 

Klasifikasi dari ikan kepe -kepe (Chaetodon octofasciatus):

 

Kingdom         : Animalia

 

Filum               : Chordata

 

Subfilum         : Vertebrata

 

Kelas               : Osteichthyes

 

Ordo                : Perciformes

 

Famili              : Chaetodontidae

 

Genus              :Chaetodon

 

Spesies            :Chaetodon octofasciatus

 

Ikan kepe-kepe umumnya berukuran kecil, kebanyakan panjangnya 12 sampai 22 cm. Spesies terbesar, kepe-kepe bergaris dan kepe-kepe pelanaC. ephippium, tumbuh hingga 30 cm. Namanya merujuk pada tubuh yang berwarna terang dan berpola mencolok pada banyak spesies, dengan sentuhan warna hitam, putih, biru, merah, jingga, dan kuning. Namun beberapa spesies berwarna biasa saja.Banyak kepe-kepe yang ‘bintik mata’ di sisi tubuhnya serta pita gelap yang melewati mata mereka, mirip pola yang terlihat di sayap kupu-kupu.Pewarnaan terpecah ini di masudkan untuk mengaburkan tubuh ikan tersebut. Tubuhnya yang bulat pipih mudah dikenali di melimpahnya kehidupan terumbu karang, sehingga orang mengira bahwa warna mencolok itu dimaksudkan untuk komunikasi antarspesies.Ikan kepe kepe sirip punggung tidak terbagi-bagi, sirip ekornya membulat atau nampak terpotong tapi tidak bercabang. Kebanyakan ikan kepe-kepe ditemukan di perairan tropis, dangkal, di sekitar terumbu karang pada kedalaman kuran dari 18 meter (Fishbase 2005).

 

            Umumnya aktif di siang hari dan sering berada di air dangkal berkedalaman kurang dari 18 m (meskipun beberapa spesies turun hingga 180 m), kepe-kepe umumnya terikat pada rentang habitat tertentu. Ikan kepe-kepe biasanya ditemukan pada terumbu karang di perairan tropis, banyak dari ikan ini yang mirip dengan kupu-kupu berdasarkan warnanya yang bervariasi dan sangat mencolok. Ikan ini biasa hidup di terumbu karang akan tetapi juga banyak ditemukan di daerah estuaria dan perairan dalam, hidup dalam suatu kelompok atau berpasangan (Tweedie and harisson 1954).    

 

            Ikan kepe-kepe merupakan ikan yang bertelur pelagis, yaitu mereka menghasilkan banyak telur yang mengapung yang kemudian menjadi bagian plankton, melayang-layang terbawa arus hingga menetas.Anaknya melalui tahap yang disebut tholichthys, dimana tubuh dari ikan pascalarva tertutup lempengan tulang besar yang meluas dari kepala.Lempengan tulang itu menghilang saat mereka beranjak dewasa. Tahap yang dilindungi lempengan semacam itu hanya terlihat pada satu famili ikan lain, scat (Scatophagidae).

 

            Ikan Kepe-kepe dapat digunakan sebagai indicator kondisi ekosistem terumbu karang, karena ikan tersebut merupakan penghuni karang sejati dan bergantung pada karang sebagai sumber energi dasar (Hutomo et al 1985).

 

Ikan Tuna

 

Klasifikasi ikan tuna menurut Saanin, 1983 adalah sebagai berikut:

 

Kingdom         : Animalia

 

Filum               : Chordata

 

Subfilum         : Vertebrata

 

Kelas               : Teleostei

 

Subkelas          : Actinopterygii

 

Ordo                : Perciformes

 

Subordo          : Scombridei

 

Family             : Scombridae

 

Genus              : Thunnus

 

Spesies            :Thunnus albacores (yellowfin tuna)

 

Thunnus obesus ( bigeye tuna)

 

Thunnus alalunga ( albacore)

 

Thunnus tonggol (longtail tuna)

 

Thunnus maccoyii (Southern bluefin tuna)

 

Ikan Tuna mempunyai bentuk badan seperti cerutu, menandakan kecepatan dalam pergerakannya. Ikan ini termasuk ke dalam kelompok pelagis besar dan sebagian besar meiliki jari-jari tambahan (finlet) dibelakang punggung dan dubur yang berwarna kuning cerah dengan warna pingiran gelap.

 

Potensi pelagis besar termasuk tuna secara nasional mencapai 1,17 ribu ton. Dalam Statistik Perikanan Indonesia, “tuna” digunakan sebagai nama group dari beberapa jenis tuna besar ( Thunnus sp, seperti yellowfin tuna, big eye, southern bluefin tuna, dan albacore), dan jenis ikan mirip tuna (tuna like species) seperti marlins dan swordfish. Skipjack tuna sering digolongkan sebagai “cakalang”, sedangkan “tongkol” umumnya digunakan untuk jenis eastern little tuna (Euthyus spp). Frigate dan bullet tuna (Auxis spp) dan longtail tuna (Thunnus tonngol). (Akhmad 2005)

 

Ikan Cakalang

 

Cakalang (Katsuwonus pelamis) adalah ikan berukuran sedang dari familia Scombridae (tuna). Satu-satunya spesies dari genus Katsuwonus. Ikan berukuran terbesar, panjang tubuhnya bisa mencapai 1 m dengan berat lebih dari 18 kg. Cakalang yang banyak tertangkap berukuran panjang sekitar 50 cm. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai skipjack tuna.

 

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/15/Katsuwonus_pelamis.jpg/200px-Katsuwonus_pelamis.jpg

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan:

Animalia

Filum:

Chordata

Kelas:

Actinopterygii

Ordo:

Perciformes

Famili:

Scombridae

Genus:

Katsuwonus

Spesies:

K. pelamis

 

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/39/Skipjack_tuna_shoal.jpg/180px-Skipjack_tuna_shoal.jpg

 

Gerombolan ikan cakalang

 

Tubuh berbentuk memanjang dan agak bulat, dengan dua sirip punggung yang terpisah. Sirip punggung pertama terdiri dari 14-16 jari-jari tajam. Sirip punggung kedua yang terdiri dari 14-15 jari-jari lunak. Sirip dubur berjumlah 14-15 jari-jari. Bagian punggung berwarna biru keungu-unguan hingga gelap. Bagian perut dan bagian bawah berwarna keperakan, dengan 4 hingga 6 garis-garis berwarna hitam yang memanjang di samping badan. Badan tidak memiliki sisik kecuali pada bagian barut badan (corselet) dan garis lateral.

 

Cakalang dikenal sebagai perenang cepat di laut zona pelagik. Ikan ini umum dijumpai di laut tropis dan subtropis di Samudra Hindia, Samudra Pasifik, dan Samudra Atlantik. Cakalang tidak ditemukan di utara Laut Tengah. Hidup bergerombol dalam kawanan berjumlah besar (hingga 50 ribu ekor ikan). Makanan mereka berupa ikan, crustacea, cephalopoda, dan moluska. Cakalang merupakan mangsa penting bagi ikan-ikan besar di zona pelagik, termasuk hiu.

 

            Ikan cakalang adalah ikan bernilai komersial tinggi, dan dijual dalam bentuk segar, beku, atau diproses sebagai ikan kaleng, ikan kering, atau ikan asap. Dalam bahasa Jepang, cakalang disebut katsuo. Ikan cakalang diproses untuk membuat katsuobushi yang merupakan bahan utama dashi (kaldu ikan) untuk masakan Jepang. Dalam makanan Manado, cakalang diawetkan dalam bentuk cakalang fufu (cakalang asap).

 

Ikan Layur

 

Ikan layur memiliki cirri-ciri morfologis sebagai berikut: badan  sangat panjang,  pipih secara pita terutama bagian ujung belakang ekor. Ikan ini juga memiliki mulut yang lebar dan dilengkapi dengan gigi-gigi tangkap yang tajam dan kuat.  Rahang atas lebih panjang dari rahang atas. Ikanlayur memilki warna biru maya kegelapan  dalam keadaan hidup. Sedangkan dalam keadaan mati warnya menjadi perak keabu-abuan atau sedikit  keunguan.

 

Ikan layur tersebar luas pada semua perairan tropis dan subtropis di dunia  (Matsuda dkk., 1975 dalam Wewengkang 2002).   Ikan ini di Indonesia tersebar  dan dijumpai pada semua perairan pantai Indonesia (Ditjen Perikanan 1979).  Bahrudin dan Wudianto (2004) menyebutkan bahwa habitat ikan layur meliputi perairan laut, estuaria, rawa pantai, mangrove sampai perairan payau. Ikan ini berenang dengan tubuh hampir sepenuhnya vertikal dengan kepala berada di sebelah atas.  Populasi ikan layur banyak terdapat pada perairan pantai yang  dangkal di sekitar muara-muara sungai.

 

PROFIL-PROFIL PERUSAHAAN

 

PT. Jaya Mitra

 

PT. Jaya Mitra merupakan salah satu perusahaan pengekspor ikan tuna Indonesia. Perusahaan ini bertempat di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Produk yang di ekspor PT. Jaya Mitra berupa ikan tuna jenis yellow fin tuna (Thunnus albacore), tetapi tidak menutup kemungkinan ikan tuna jenis yang lain dapat ikut tertangkap pada saat berlayar. Alat tangkap yang digunakan dalam proses penangkapan tuna yairu rumpon dan long line. Selain alat tangkap, alat yang digunakan selama berlayar adalah radio buy untuk mendeteksi lokasi alat pancing yang telah disebar 1-2 jam sebelumnya. Fasilitas yang diberikan oleh pemerintah diantaranya radar cuaca dan bantuan kapal. Umpan yang digunakan diantaranya cumi, layang, lemuru atau bandeng hidup. Apabila hasil produk Indonesia tidak dapat memenuhi kebutuhan umpan PT. Jaya Mitra, maka perusahaan ini terpaksa mengimportnya, dari segi harga lebih murah umpan import, tetapi kualitasnya sama dengan umpang yang didapatkan dari dalam negeri. Kapal penangkap ikan biasanya berlayar selama ± 6 bulan. Hasil tangkapan per 6 bulan tersebut tidak menentu, apabila sudah ada ikan tuna yan tertangkap dalam kurun waktu kurang dari enam bulan, maka perusahaan akan mengirimkan kapal kolekting untuk menjemput ikan tersebut agar mutu dan kualitas ikan terjaga sampai ke negara tujuan ekspor.

 

Kapasitas total kapal tangkapan yaitu sekitar 30-60 ton. Lama waktu penyimpanan yaitu sekitar 1-2 hari dari lokasi penangkapan. Perawatan yang dilakukan di dalam kapal diantaranya pemukulan kepala ikan pada saat didaratkan di kapal. Pemukulan kepala tuna tersebut dilakukan agar asam laktat tidak terbentuk. Asam laktat terbentuk karena pada fase itu sirkulasi darah terhenti dan suplai oksigen berkurang (Nurjanah 2004). Kemudian ikan disiangi dan digantung dengan posisi kepala dibawah agar darah didalam tubuh ikan hilang.

 

Proses penyiangan merupakan proses terbaik untuk memperlambat kemunduran mutu ikan (Munandar 2008). Setelah itu ikan dimasukkan ke dalam freezer untuk memperthankan suhu rendah. Penanganan yang sering dilakukan agar dapat menurunkan kemunduran mutu ikan adalah pendinginan. Bahan umum yang digunakan adalah es (Munandar et al. 2009). Daerah penangkapan ikan di Chrismas Island (perbatasan Indonesia-Austraia). Hasil tangkapan PT. Jaya Mitra ini di-ekspor ke negara Jepang. Ukuran standart ekspor yaitu 12 UP – 20 UP (80 kg – 1 kwintal). Harga ekspor sekitar Rp. 80.000/kg – Rp.100.000/kg. Ikan yang di ekspor dalam keadaan tanpa kepala dan telah disiangi dari isi perutnya.

 

Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C. Sutardjo, realisasi ekspor tuna asal Indonesia pada tahun 2011 adalah sebesar 141.774 ton, jauh meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 122.450 ton. Ekspor perikanan tahun 2012 masih dihitung tetapi menunjukkan kecenderungan positif meningkat, dan negara yang menjadi tujuan utama ekspor adalah Jepang dan Amerika Serikat (KKP 2012). Selain ikan tuna sirip kuning yang menjadi hasil tangkapan utama perusahaan ini, terdapat pula ikan lain yang di ekspor, yaitu ikan marlin, baragas dan layur. Pembatasan ekspr ikan tuna umumnya tidak terjadi, kecuali apabila negara tujuan ekspor sedang mengalami banjir ikan.

 

Ikan yang tidak memenuhi syarat untuk di ekspor akan dijual di kota-kota besar di Indonesia, terutama di Jakarta. Ikan yang dijual di Jakarta biasanya dalam bentuk tanpa kepala. PT. Jaya Mitra ini telah mendapatkan sertifikasi dari dinas Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang tiap tahun atau 5 tahun diperbaharui.

 

PT. Asia Good Business (AGB)

 

PT AGB Palabuhan Ratu adalah salah satu perusahaan penanaman modal asing (PMA) yang bergerak dalam bisnis industri pembekuan dengan mengkhususkan diri di bidang ekspor. PT AGB Palabuhan Ratu salah satu perusahaan yang cukup besar di wilayah kabupaten Sukabumi. Hal ini dapat dilihat dari kontibusi tingkat produksi di wilayah kabupaten Sukabumisekitar 45%, status kepemilikan perusahaan berupa Persero, jumlah investasi yang dimiliki sekitar US $1.000.000, pemilik perusahaan terdiri dari lima orang dengan pembagian kerja yang jelas. Jumlah pekerja dalam perusahaan tersebut sekitar 30-50 orang dengan pembagian tugas Pekerja tugasnya ; penyortiran, penimbangan, penyusunan, pengepakkan, sama menata coldstorage.

 

Dokumen perusahaan yang lengkap mulai dari perizinan sampai prosedur operasional perusahaan. Memiliki kelengkapan fasilitas yang menunjang kegiatan operasional perusahaan, serta memiliki jenis produk yang beraneka ragam seperti: ikan layur, ikan cakalang, ikan buntal, lobster dan yang paling utama adalah tuna. PT AGB Palabuhan Ratu perusahaan yang menyelami bidang industri pembekuan ikan dan biota perairan lainnya seperti : lobster, cumi-cumi, gurita, dan tuna.

 

Dokumen perusahaan yang lengkap mulai dari perizinan sampai prosedur operasional perusahaan. Memiliki kelengkapan fasilitas yang menunjang kegiatan operasional perusahaan, serta memiliki jenis produk yang beraneka ragam seperti : ikan layur, ikan cakalang, ikan buntal, lobster dan yang paling utama adalah tuna.Perusahaan ini berada di bawah koordinasi Badan Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhan Ratu dalam kaitannya dengan masalah teknis seperti : sewa tempat, penggunaan listrik, air, es, dan fasilitas lainnya. PT AGB Palabuhan Ratu melakukan kegiatan ekspor ke negara Korea dan Cina. Namun jika ada permintaan dari konsumen lokal yang merupakan kerabat dan relasi pemilik, perusahaan juga berupaya untuk memenuhinya.

 

Volume produksi PT AGB Palabuhan Ratu pada musim panen ikan dapat mencapai 5 ton per hari. Berikut adalah data volume produksi dan ekspor PT AGB Palabuhan Ratu selama periode satu tahun

 

Tabel diatas memperlihatkan perkembangan volume produksi dan ekspor PT AGB Palabuhan Ratu cukup fluktuatif. Pada bulan September 2005 dan Maret 2006 terjadi peningkatan volume produksi ekspor yang tinggi. Hal ini dapat disebakan oleh terjadinya musim ikan dan banyaknya permintaan pelanggan. Sedangkan pada bulan Mei dan Juni 2006 mengalami tingkat produksi dan ekspor yang rendah. Hal tersebut dapat dikarenakan sedang tidak terjadi musim ikan pada bulan tersebut. Perusahaan mampu memproduksi dari bahan baku sampai proses penyimpanan rata-rata 3-4 ton per satu kali produksi per hari, tergantung pada ketersediaan bahan baku. Perusahaan dapat mengekspor sejumlah 12 sampai 200 ton perbulannya.

 

 

 

Kegiatan utama perusahaan adalah mengelola Gudang Pendingin. Cold storage atau penyimpanan beku berarti meletakkan produk yang sudah beku di dalam ruangan dengan suhu yang telah dipertahankan sama dan telah ditentukan sebelumnya (misalnya -250C). Pengawetan ikan dengan pembekuan (dengan suhu sampai -500C) akan mampu menghentikan kegiatan mikroorganisme. Pada suhu di bawah -100C proses pembusukan oleh bakteri terhenti. Pembekuan dan penyimpanan beku (cold storage) adalah cara terbaik untuk penyimpanan jangka panjang. Bila cara pengolahan dan pembekuan baik dan bahan mentahnya masih segar, maka akan dihasilkan ikan beku yang dicairkan (thawing) keadaannya masih mendekati sifat-sifat ikan segar. Membekukan produk sampai pada suhu -180C merupakan perlakuan bahan dalam industri pendinginan ikan.

 

Bakteri pembusuk hidup pada suhu antara 0-30 C dengan suhu optimal 15 C. Bila suhu diturunkan dengan cepat sampai 0 C, maka proses pembusukan akan terlambat. Pada suhu ini, kegiatan bakteri berhenti sama sekali, sedangkan kegiatan enzim-enzim perusak telah lebih dahulu terhambat. Dasar-dasar inilah yang digunakan untuk pengawetan ikan dengan pendinginan termasuk pembekuan.DAPUS Cold storage yang terdapat di Pelabuhan Ratu diseting dengan suhu minimum -250C dan suhu freezer -100C.Komoditas yang dibekukan hanya ikan layur saja. Terdapat sebuah cold storage dan dua buah freezer yang memiliki kapasitas muat yang berbeda-beda.

 

Kemunduran mutu yang terjadi pada ikan dari aktivitas enzim maupun bakteri dapat ditekan dengan adanya penurunan suhu. Peranan cold storage adalah ketika suatu bahan baku dalam keadaan segar dibekukan dan disimpan pada suhu yang dijaga tetap dingin, kemunduran mutu dapat diperlambat hampir seluruhnya. Beberapa kemunduran mutu pada ikan selama pembekuan tetap berlangsung namun dalam jumlah yang kecil.

 

Temperatur yang ideal untuk menjaga agar kemunduran bahan baku dapat diperlambat adalah -20°C karena pada suhu ini aktivitas bakteri benar-benar dapat ditekan dan aktivitas enzim berlasngsung sangat lambat. Beberapa bahan baku perikanan yang bahkan dapat disimpan pada suhu yang lebih tinggi dalam waktu yang singkat, namun karena bahan baku tidak dapat selalu terjaga pada storage sesuai waktunya, maka suhu -20°C lebih aman digunakan kapanpun (www.fao.org/wairdocs, 2009).

 

Pada cold storage sekalipun mutu ikan akan mengalami kemunduran mutu, lama kelamaan penampakan dan rasa ikan akan mengalami kemunduran mutu. Ikan yang dibiarkan mati akan lebih cepat membusuk dibanding ikan yang segera mati (keadaan sangat segar). Faktor-faktor pembatas pada cold storage yang mengakibatkan hal ini adalah Perubahan oleh kandungan lemak, protein, dan dehidrasi (freeze burn). Kandungan lemak ikan yang teroksidasi ditambah oleh enzim pada daging ikan yang terkumpul dapat mempercepat reaksi pembusukan. Perubahan ini terjadi pada suhu yang lebih tinggi dan kecepatan reaksinya dipengaruhi oleh bahan kimia tertentu seperti garam, yang mungkin meningkatkan aktivitas enzim (www.fao.org/wairdocs, 2009).

 

Keadaan ikan sebelum dimasukkan dalam cold storage dilakukan penanganan pembersihan ikan dengan sanitasi yang terjaga agar mutu ikan sesuai untuk kualitas ekspor. Setelah penanganan, lalu dikemas dalam plastik khusus kemudian dimasukkan dalam cold storage.

 

Berdasarkan wawancara yang kami lakukan, diperoleh bahwa ikan yang berada dalam coldstorage dengan suhu yang sudah disesuaikan akan bertahan selama 18 bulan. Ikan yang berada di coldstorage tersebut akan diproduksi menjadi ikan pindang. PT tersebut dapat memproduksi hingga 5 ton per harinya. Pengeksporan yang dilakukan mencapai 12-200 ton/bln. Pekerja yang terdapat didalam PT AGB sebanyak 30 sampe 50 orang. Pekerjanya tersebut memiliki tugas yang berbeda-beda diantaranya adalah penyortiran, penimbangan, penyusunan, pengepakkan (penataan) didalam coldstorage.

 

Pemindangan Hj.Iroh

 

Pembuatan pindang merupakan suatu cara pengolahan tradisional yang sangat sederhana yaitu merebus ikan dalam suasana bergaram selama jangka waktu tertentu di dalam suatu wadah (Ilyas dan Hanafiah 1980).   Penggunaan garam khususnya untuk produk perikanan tampaknya masih diandalkan, karena garam tidak saja berfungsi sebagai pengawet yang baik, tetapi pada konsentrasi tertentu dapat memberikan citarasa serta dapat menjaga kelembutan daging ikan.   Banyaknya garam yang digunakan tergantung dari ukuran ikan dan tingkat keasinan yang diinginkan.   Untuk ikan yang berukuran sedang jumlah garam yang digunakan adalah 15% – 25% (Moeljanto 1965). 

 

Tempat pemindangan yang kami datangi saat di Pelabuhan Ratu bernama pemindangan Hj Iroh. Tempat pemindangan tersebut memproduksi pemindangan secara tradisional. Penggunaan alatnya pun masih sangat sederhana, diantaranya masih menggunakan kayu bakar sebagai pemanas, menggunakan air dari sumur melalui menimba, dan lain sebagainya yang masih sangat tradisional. Berdasarkan wawancara yang kami lakukan, proses pemindangan yang terjadi ditempat tersebut melalui beberapa tahap. Diantaranya, ikan segar yang baru ditangkap dicuci bersih menggunakan air dengan membuang jeroan-jeroannya jika ikannya besar tapi jika ikan nya kecil tidak perlu dibuang jeroannya. Kemudian ikan yang sudah bersih di bungkus menggunakan kertas pada sisi perutnya. Menurut pekerja ditempat itu, fungsi dari kertas yang menutupi bagian badan ikan dimaksudkan agar ikan mudah untuk diambil. Proses selanjutnya ikan disusun kedalam sebuah wadah seperti ember besar sesuai dengan ukuran. Proses penyusunan itu dibarengi dengan pemberian garam pada tiap susunan hingga merata. Proses akhirnya adalah merebus ikan diatas tungku kayu bakar selama kurang lebih enam sampai tujuh jam lamanya.

 

Pemindangan Hj Iroh memproduksi pindang mencapai dua ton untuk satu kali produksi. Proses produksi yang dilakukan tergantung banyak atau tidaknya ikan yang tersedia. Biaya produksi yang harus dikeluarkan setiap dua ton nya adalah sekitar 30-40 juta. Ikan yang digunakan dalam proses pemindangan diantaranya, ikan tongkol, ikan tuna, ikan tembang, ikan lising, ikan cakalang, ikan semar, dan ikan bandeng. Pindang ikan yang paling digemari oleh konsumen adalah pindang ikan tongkol dan tuna. Ikan pindang tersebut dapat tahan hingga setengah bulan. Harga yang dipatok adalah sekitar 600.000/wadah besar. Ikan pindang Hj Iroh tersebut biasanya dipasok ke Cianjur, Bandung, Garut, dan sekitarnya.

 

Selain pemindangan Hj Iroh, kami pun sempat mewawancarai seorang pedagang pindang ikan tongkol yang berada di dekat tempat pelelangan ikan. Beliau berkata, peluang penjualan pindang ikan itu lumayan baik, hanya saja semua bergantung pada pembeli. Jika sedang ramai maka pindang ikan akan habis sebanyak 2 ember dalam satu hari, tetapi jika tidak ramai hanya habis setengah sampai satu ember. Pindang ikan tongkol tersebut dijual seharga Rp.35.000 untuk ukuran besar, Rp.25.000 untuk ukuran sedang, dan Rp.15.000 untuk ukuran kecil.

 

Pembesaran Lobster Hj. Badri

 

Budidaya dan Pengolahan Ikan Sidat di SLK (Stasiun Lapang Kelautan).

 

Simpulan dan Saran

 

            Palabuhan ratu adalah salah satu tempat yang memiliki tempat pelelangan ikan, pembudidayaan sidat, pemindangan, pembesaran lobster, tempat pengeksporan ikan tuna dan tempat pembekuan ikan. Ditempat pelelangan ikan kami menemukan beberapa jenis ikan, diantaranya ikan tuna, ikan tongkol, ikan cakalang, ikan kakap, ikan layur dan lain sebagainya. Perusahaan yang menaungi pengeksporan ikan tuna adalah PT. Mitra Jaya, PT. Asia Good Business (AGB) untuk perusahaan yang bergerak dibidang pembekuan ikan. Pemindangan Hj.Iroh, pembesaran lobster Hj.Badri, budidaya dan pengolahan ikan sidat di SLK (stasiun lapang kelautan). Masing-masing dari perusahaan tersebut bergerak dibidang perikanan dan kelautan. Setiap perusahaan memiliki bagian atau tugas yang berbeda-beda namun memiliki satu tujuan yang sama yaitu lebih mengembangkan dunnia perikanan dan kelautan dilain bidang.

 

            Saran dari kelompok kami adalah semoga difieldtrip pengantar bahan baku yang akan datang  dapat lebih mengunjungi banyak tempat yang tersedia dipelabuhan ratu khususnya yang berkaitan di dunia perikanan dan kelautan, sehingga para praktikan dapat lebih mengenal dibidang tersebut.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

[KKP] Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2012. EKSPOR TUNA SEMAKIN BERGAIRAH. http://www.kkp.go.id 25 Juli 2012 (16 November 2012)112 hal.

 

Djuhanda, T. 1981. Dunia Ikan. Bandung: Armiko.

 

Effendi, M.I. 1997.Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta.

 

Fauzi Akhmad.2005. Kebijakan Perikanan dan Kelautan Issue, Sintesis, dan Gagasan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

 

Fishbase.2005.www.fishbase.org

 

Gunarso, W. 1985.Tingkah Laku Ikan Dalam Hubungannya Dengan Alat,

 

Hutomo et al.1985.Sumberdaya Ikan Terbang.Jakarta:Lembaga Oseanografi LIPI.

 

Ilyas, S dan Hanafiah, T.A.R. 1980. Study on salting-boiling of fish: 1.some changes occurring during processing of brine-boiled fish. In: Pindang Processing Technology. (In Indonesia). Proc. Seminar No. 2, Jakarta.

 

Iskandar, B.H. dan W. Mawardi. 1997. Studi Perbandingan Keberadaan Ikanikan

 

Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan. Institut

 

Karang Nokturnal dan Diurnal Tujuan Penangkapan di Terumbu

 

Karang Pulau Pari Jakarta Utara. Bulletin PSP 6 : 1. Hal 17-27.

 

Kriswanto. 1986. Mengenal Ikan Air Tawar. Jakarta: Penerbit BP Karya Baru.

 

Metode dan Taktik Penangkapan.Diktat Kuliah (Tidak Dipublikasikan).

 

Moyle, P.B. & J.J. Cech. 1988. Fishes. An Introduction to Ichthyology.Second Edition. Prentice Hall, New Jersey.

 

Munandar A, Nurjanah, Nirmala. 2009. Kemunduran Mutu Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) pada Penyimpanan Suhu Rendah dengan Perlakuan Cara Kematian dan Penyiangan. Jurnal Teknologi Pengolahan Hail Perikanan Indonesia Vol.7 (2): 88-1010

 

Munandar, Aris. 2008. Kemunduran mutu ikan nila (Oreochromis niloticus) pada penyimpanan suhu rendah dengan perlakuan cara kematian dan penyiangan. [Skripsi]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

 

Neng Rinta Juniawati. 2007. Analisis Strategi Bisnis Pada PT Asia Good Business (AGB) Palabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.[skripsi]. Institut Pertanian Bogor. Bogor

 

Nikolsky, G.V. 1963. The Ecology of Fishes.London:Academic Press.

 

Nurjanah, Setianingsih I, Sukarno, Muldani M. 2004. Kemunduran Mutu Ikan Nila Merah (Oreochromis sp.) selama Penyimpanan pada Suhu Ruang. Buletin Hasil Perikanan. 7(1): 37-4

 

R Moeljanto.1965.  Prinsip-prinsip dasar pengawetan ikan setjara tradisionil. Jakarta: Departemen Perikanan dan Pengolahan Laut R.I

 

Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kuntji Indentifikasi  Ikan. Bandung: Binatjipta.

 

Saanin,H.1985.Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan.Jakarta:Bina Cipta.

 

Soesanto, V., 1974. Sumber Perikanan di Indonesia. Correspondence Course
Centre. Direktorat Jenderal Perikanan, Jakarta

 

Tweedie and Harisson.1954.Malayan Animal Life.Toronto:Long mans, Green and Co.

 

Wewengkang, I. 2002. Analisis Sistem Usaha Penangkapan Ikan Layur (Trichiurus savala) Di Palabuhanratu dan Kemungkinan Pengembangannya. [Tesis]. Program Studi Teknologi Kelautan. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.

Demikian laporan fieldtrip studi di PPN Pelabuhan Ratu. Mohon Cantumkan sumber bila mengutip kata, kalimat, atau paragraf.

 

Ikan Tongkol Menurut Saanin (1968), klasifikasi Ikan Tongkol adalah sebagai berikut:
Kingdom
         : Animalia
Phylum
            : Chordata
Sub Phylum
     : Vertebrata
Class
                : Pisces
Sub Class
        : Teleostei
Ordo
                : Percomorphi
Family
             : Scombridae
Genus
              : Euthynnus
Species
            : Euthynnus affinis

 

Ikan tongkol terklasifikasi dalam ordo Goboioida, family Scombridae, genus Euthynnus, spesies Euthynnus affinis. Ikan tongkol masih tergolong pada ikan Scombridae, bentuk tubuh seperti betuto, dengan kulit yang licin .Sirip dada melengkung, ujngnya lurus dan pangkalnya sangat kecil. Ikan tongkol merupakan perenang yang tercepat diantara ikan-ikan laut yang berangka tulang. Sirip-sirip punggung, dubur, perut, dan dada pada pangkalnya mempunyai lekukan pada tubuh, sehingga sirip-sirip ini dapat dilipat masuk kedalam lekukan tersebut, sehingga dapat memperkecil daya gesekan dari air pada waktu ikan tersebut berenang cepat. Dan dibelakang sirip punggung dan sirip dubur terdapat sirip-sirip tambahan yang kecil-kecil yang disebut finlet. (T. Djuhanda 1981).

Menurut Soesanto (1974), Ikan Tongkol merupakan salah satu jenis ikan pelagis artinya hidup di lapisan atas dari suatu perairan. Bentuk badanya memanjang yang kedua ujungnya meruncing, mempunyai dua sirip punggung dan 7-8 finlet. Dari bentuk ikan adanya dua sirip punggung dan banyaknya  finlet ini menujukan ikan tongkol termasuk jenis ikan perenang cepat.

Ikan tongkol merupakan penghuni hampir seluruh perairan asia. Di indonesia, ikan ini banyak membentuk gerombolan-gerombolan besar terutama di perairan indonesia timur dan samudra Indonesia. Termasuk ikan pelagis perenang cepat sehingga untuk menangkapnya alat yang di gunakan harus di operasikan dengan kecepatan yang memadai (kriswanto 1986).

Ikan tongkol merupakan salah satu sumberdaya hayati laut di Indonesia yang memiliki potensi ekonomi cukup baik di pasaran, begitu juga di kawasan perairan Pelabuhan Ratu. Akan tetapi saat ini belum ada pengkajian yang lengkap mengenai berbagai aspek potensi atau persediaan ikan tongkol tersebut.

Alat tangkap payang di Pelabuhan Ratu menangkap ikan-ikan pelagis terutama dari jenis-jenis tongkol (Auxis Sp.), ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) merupkan hasil tangkapan yang terbesar dan pada umumnya tertangkap sepanjang tahun. Ikan tongkol abu-abu tertangkap sepanjang tahun, sdangkan hasil tangkap maksimum terjadi antara bulan Mei-November. Jenis tongkol yang lain adalah Lisong (bahasa nelayan Pelabuhan Ratu).

Ikan yang paling banyak ditemui di tempat pelelangan ikan pelabuhan ratu adalah ikan tongkol, karena hasil tangkapan bias sampai 1 ton per hari. Ikan tongkol ini dijual sampai 1 minggu, selama waktu penjualan tersebut ikan diawetkan dengan menggunakan es.

Ikan Kepe-Kepe

Klasifikasi dari ikan kepe -kepe (Chaetodon octofasciatus):

Kingdom         : Animalia

Filum               : Chordata

Subfilum         : Vertebrata

Kelas               : Osteichthyes

Ordo                : Perciformes

Famili              : Chaetodontidae

Genus              :Chaetodon

Spesies            :Chaetodon octofasciatus

Ikan kepe-kepe umumnya berukuran kecil, kebanyakan panjangnya 12 sampai 22 cm. Spesies terbesar, kepe-kepe bergaris dan kepe-kepe pelanaC. ephippium, tumbuh hingga 30 cm. Namanya merujuk pada tubuh yang berwarna terang dan berpola mencolok pada banyak spesies, dengan sentuhan warna hitam, putih, biru, merah, jingga, dan kuning. Namun beberapa spesies berwarna biasa saja.Banyak kepe-kepe yang ‘bintik mata’ di sisi tubuhnya serta pita gelap yang melewati mata mereka, mirip pola yang terlihat di sayap kupu-kupu.Pewarnaan terpecah ini di masudkan untuk mengaburkan tubuh ikan tersebut. Tubuhnya yang bulat pipih mudah dikenali di melimpahnya kehidupan terumbu karang, sehingga orang mengira bahwa warna mencolok itu dimaksudkan untuk komunikasi antarspesies.Ikan kepe kepe sirip punggung tidak terbagi-bagi, sirip ekornya membulat atau nampak terpotong tapi tidak bercabang. Kebanyakan ikan kepe-kepe ditemukan di perairan tropis, dangkal, di sekitar terumbu karang pada kedalaman kuran dari 18 meter (Fishbase 2005).

            Umumnya aktif di siang hari dan sering berada di air dangkal berkedalaman kurang dari 18 m (meskipun beberapa spesies turun hingga 180 m), kepe-kepe umumnya terikat pada rentang habitat tertentu. Ikan kepe-kepe biasanya ditemukan pada terumbu karang di perairan tropis, banyak dari ikan ini yang mirip dengan kupu-kupu berdasarkan warnanya yang bervariasi dan sangat mencolok. Ikan ini biasa hidup di terumbu karang akan tetapi juga banyak ditemukan di daerah estuaria dan perairan dalam, hidup dalam suatu kelompok atau berpasangan (Tweedie and harisson 1954).    

            Ikan kepe-kepe merupakan ikan yang bertelur pelagis, yaitu mereka menghasilkan banyak telur yang mengapung yang kemudian menjadi bagian plankton, melayang-layang terbawa arus hingga menetas.Anaknya melalui tahap yang disebut tholichthys, dimana tubuh dari ikan pascalarva tertutup lempengan tulang besar yang meluas dari kepala.Lempengan tulang itu menghilang saat mereka beranjak dewasa. Tahap yang dilindungi lempengan semacam itu hanya terlihat pada satu famili ikan lain, scat (Scatophagidae).

            Ikan Kepe-kepe dapat digunakan sebagai indicator kondisi ekosistem terumbu karang, karena ikan tersebut merupakan penghuni karang sejati dan bergantung pada karang sebagai sumber energi dasar (Hutomo et al 1985).

Ikan Tuna

Klasifikasi ikan tuna menurut Saanin, 1983 adalah sebagai berikut:

Kingdom         : Animalia

Filum               : Chordata

Subfilum         : Vertebrata

Kelas               : Teleostei

Subkelas          : Actinopterygii

Ordo                : Perciformes

Subordo          : Scombridei

Family             : Scombridae

Genus              : Thunnus

Spesies            :Thunnus albacores (yellowfin tuna)

Thunnus obesus ( bigeye tuna)

Thunnus alalunga ( albacore)

Thunnus tonggol (longtail tuna)

Thunnus maccoyii (Southern bluefin tuna)

Ikan Tuna mempunyai bentuk badan seperti cerutu, menandakan kecepatan dalam pergerakannya. Ikan ini termasuk ke dalam kelompok pelagis besar dan sebagian besar meiliki jari-jari tambahan (finlet) dibelakang punggung dan dubur yang berwarna kuning cerah dengan warna pingiran gelap.

Potensi pelagis besar termasuk tuna secara nasional mencapai 1,17 ribu ton. Dalam Statistik Perikanan Indonesia, “tuna” digunakan sebagai nama group dari beberapa jenis tuna besar ( Thunnus sp, seperti yellowfin tuna, big eye, southern bluefin tuna, dan albacore), dan jenis ikan mirip tuna (tuna like species) seperti marlins dan swordfish. Skipjack tuna sering digolongkan sebagai “cakalang”, sedangkan “tongkol” umumnya digunakan untuk jenis eastern little tuna (Euthyus spp). Frigate dan bullet tuna (Auxis spp) dan longtail tuna (Thunnus tonngol). (Akhmad 2005)

Ikan Cakalang

Cakalang (Katsuwonus pelamis) adalah ikan berukuran sedang dari familia Scombridae (tuna). Satu-satunya spesies dari genus Katsuwonus. Ikan berukuran terbesar, panjang tubuhnya bisa mencapai 1 m dengan berat lebih dari 18 kg. Cakalang yang banyak tertangkap berukuran panjang sekitar 50 cm. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai skipjack tuna.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/15/Katsuwonus_pelamis.jpg/200px-Katsuwonus_pelamis.jpg

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan:

Animalia

Filum:

Chordata

Kelas:

Actinopterygii

Ordo:

Perciformes

Famili:

Scombridae

Genus:

Katsuwonus

Spesies:

K. pelamis

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/39/Skipjack_tuna_shoal.jpg/180px-Skipjack_tuna_shoal.jpg

Gerombolan ikan cakalang

Tubuh berbentuk memanjang dan agak bulat, dengan dua sirip punggung yang terpisah. Sirip punggung pertama terdiri dari 14-16 jari-jari tajam. Sirip punggung kedua yang terdiri dari 14-15 jari-jari lunak. Sirip dubur berjumlah 14-15 jari-jari. Bagian punggung berwarna biru keungu-unguan hingga gelap. Bagian perut dan bagian bawah berwarna keperakan, dengan 4 hingga 6 garis-garis berwarna hitam yang memanjang di samping badan. Badan tidak memiliki sisik kecuali pada bagian barut badan (corselet) dan garis lateral.

Cakalang dikenal sebagai perenang cepat di laut zona pelagik. Ikan ini umum dijumpai di laut tropis dan subtropis di Samudra Hindia, Samudra Pasifik, dan Samudra Atlantik. Cakalang tidak ditemukan di utara Laut Tengah. Hidup bergerombol dalam kawanan berjumlah besar (hingga 50 ribu ekor ikan). Makanan mereka berupa ikan, crustacea, cephalopoda, dan moluska. Cakalang merupakan mangsa penting bagi ikan-ikan besar di zona pelagik, termasuk hiu.

            Ikan cakalang adalah ikan bernilai komersial tinggi, dan dijual dalam bentuk segar, beku, atau diproses sebagai ikan kaleng, ikan kering, atau ikan asap. Dalam bahasa Jepang, cakalang disebut katsuo. Ikan cakalang diproses untuk membuat katsuobushi yang merupakan bahan utama dashi (kaldu ikan) untuk masakan Jepang. Dalam makanan Manado, cakalang diawetkan dalam bentuk cakalang fufu (cakalang asap).

Ikan Layur

Ikan layur memiliki cirri-ciri morfologis sebagai berikut: badan  sangat panjang,  pipih secara pita terutama bagian ujung belakang ekor. Ikan ini juga memiliki mulut yang lebar dan dilengkapi dengan gigi-gigi tangkap yang tajam dan kuat.  Rahang atas lebih panjang dari rahang atas. Ikanlayur memilki warna biru maya kegelapan  dalam keadaan hidup. Sedangkan dalam keadaan mati warnya menjadi perak keabu-abuan atau sedikit  keunguan.

Ikan layur tersebar luas pada semua perairan tropis dan subtropis di dunia  (Matsuda dkk., 1975 dalam Wewengkang 2002).   Ikan ini di Indonesia tersebar  dan dijumpai pada semua perairan pantai Indonesia (Ditjen Perikanan 1979).  Bahrudin dan Wudianto (2004) menyebutkan bahwa habitat ikan layur meliputi perairan laut, estuaria, rawa pantai, mangrove sampai perairan payau. Ikan ini berenang dengan tubuh hampir sepenuhnya vertikal dengan kepala berada di sebelah atas.  Populasi ikan layur banyak terdapat pada perairan pantai yang  dangkal di sekitar muara-muara sungai.

PROFIL-PROFIL PERUSAHAAN

PT. Jaya Mitra

PT. Jaya Mitra merupakan salah satu perusahaan pengekspor ikan tuna Indonesia. Perusahaan ini bertempat di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Produk yang di ekspor PT. Jaya Mitra berupa ikan tuna jenis yellow fin tuna (Thunnus albacore), tetapi tidak menutup kemungkinan ikan tuna jenis yang lain dapat ikut tertangkap pada saat berlayar. Alat tangkap yang digunakan dalam proses penangkapan tuna yairu rumpon dan long line. Selain alat tangkap, alat yang digunakan selama berlayar adalah radio buy untuk mendeteksi lokasi alat pancing yang telah disebar 1-2 jam sebelumnya. Fasilitas yang diberikan oleh pemerintah diantaranya radar cuaca dan bantuan kapal. Umpan yang digunakan diantaranya cumi, layang, lemuru atau bandeng hidup. Apabila hasil produk Indonesia tidak dapat memenuhi kebutuhan umpan PT. Jaya Mitra, maka perusahaan ini terpaksa mengimportnya, dari segi harga lebih murah umpan import, tetapi kualitasnya sama dengan umpang yang didapatkan dari dalam negeri. Kapal penangkap ikan biasanya berlayar selama ± 6 bulan. Hasil tangkapan per 6 bulan tersebut tidak menentu, apabila sudah ada ikan tuna yan tertangkap dalam kurun waktu kurang dari enam bulan, maka perusahaan akan mengirimkan kapal kolekting untuk menjemput ikan tersebut agar mutu dan kualitas ikan terjaga sampai ke negara tujuan ekspor.

Kapasitas total kapal tangkapan yaitu sekitar 30-60 ton. Lama waktu penyimpanan yaitu sekitar 1-2 hari dari lokasi penangkapan. Perawatan yang dilakukan di dalam kapal diantaranya pemukulan kepala ikan pada saat didaratkan di kapal. Pemukulan kepala tuna tersebut dilakukan agar asam laktat tidak terbentuk. Asam laktat terbentuk karena pada fase itu sirkulasi darah terhenti dan suplai oksigen berkurang (Nurjanah 2004). Kemudian ikan disiangi dan digantung dengan posisi kepala dibawah agar darah didalam tubuh ikan hilang.

Proses penyiangan merupakan proses terbaik untuk memperlambat kemunduran mutu ikan (Munandar 2008). Setelah itu ikan dimasukkan ke dalam freezer untuk memperthankan suhu rendah. Penanganan yang sering dilakukan agar dapat menurunkan kemunduran mutu ikan adalah pendinginan. Bahan umum yang digunakan adalah es (Munandar et al. 2009). Daerah penangkapan ikan di Chrismas Island (perbatasan Indonesia-Austraia). Hasil tangkapan PT. Jaya Mitra ini di-ekspor ke negara Jepang. Ukuran standart ekspor yaitu 12 UP – 20 UP (80 kg – 1 kwintal). Harga ekspor sekitar Rp. 80.000/kg – Rp.100.000/kg. Ikan yang di ekspor dalam keadaan tanpa kepala dan telah disiangi dari isi perutnya.

Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C. Sutardjo, realisasi ekspor tuna asal Indonesia pada tahun 2011 adalah sebesar 141.774 ton, jauh meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 122.450 ton. Ekspor perikanan tahun 2012 masih dihitung tetapi menunjukkan kecenderungan positif meningkat, dan negara yang menjadi tujuan utama ekspor adalah Jepang dan Amerika Serikat (KKP 2012). Selain ikan tuna sirip kuning yang menjadi hasil tangkapan utama perusahaan ini, terdapat pula ikan lain yang di ekspor, yaitu ikan marlin, baragas dan layur. Pembatasan ekspr ikan tuna umumnya tidak terjadi, kecuali apabila negara tujuan ekspor sedang mengalami banjir ikan.

Ikan yang tidak memenuhi syarat untuk di ekspor akan dijual di kota-kota besar di Indonesia, terutama di Jakarta. Ikan yang dijual di Jakarta biasanya dalam bentuk tanpa kepala. PT. Jaya Mitra ini telah mendapatkan sertifikasi dari dinas Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang tiap tahun atau 5 tahun diperbaharui.

PT. Asia Good Business (AGB)

PT AGB Palabuhan Ratu adalah salah satu perusahaan penanaman modal asing (PMA) yang bergerak dalam bisnis industri pembekuan dengan mengkhususkan diri di bidang ekspor. PT AGB Palabuhan Ratu salah satu perusahaan yang cukup besar di wilayah kabupaten Sukabumi. Hal ini dapat dilihat dari kontibusi tingkat produksi di wilayah kabupaten Sukabumisekitar 45%, status kepemilikan perusahaan berupa Persero, jumlah investasi yang dimiliki sekitar US $1.000.000, pemilik perusahaan terdiri dari lima orang dengan pembagian kerja yang jelas. Jumlah pekerja dalam perusahaan tersebut sekitar 30-50 orang dengan pembagian tugas Pekerja tugasnya ; penyortiran, penimbangan, penyusunan, pengepakkan, sama menata coldstorage.

Dokumen perusahaan yang lengkap mulai dari perizinan sampai prosedur operasional perusahaan. Memiliki kelengkapan fasilitas yang menunjang kegiatan operasional perusahaan, serta memiliki jenis produk yang beraneka ragam seperti: ikan layur, ikan cakalang, ikan buntal, lobster dan yang paling utama adalah tuna. PT AGB Palabuhan Ratu perusahaan yang menyelami bidang industri pembekuan ikan dan biota perairan lainnya seperti : lobster, cumi-cumi, gurita, dan tuna.

Dokumen perusahaan yang lengkap mulai dari perizinan sampai prosedur operasional perusahaan. Memiliki kelengkapan fasilitas yang menunjang kegiatan operasional perusahaan, serta memiliki jenis produk yang beraneka ragam seperti : ikan layur, ikan cakalang, ikan buntal, lobster dan yang paling utama adalah tuna.Perusahaan ini berada di bawah koordinasi Badan Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhan Ratu dalam kaitannya dengan masalah teknis seperti : sewa tempat, penggunaan listrik, air, es, dan fasilitas lainnya. PT AGB Palabuhan Ratu melakukan kegiatan ekspor ke negara Korea dan Cina. Namun jika ada permintaan dari konsumen lokal yang merupakan kerabat dan relasi pemilik, perusahaan juga berupaya untuk memenuhinya.

Volume produksi PT AGB Palabuhan Ratu pada musim panen ikan dapat mencapai 5 ton per hari. Berikut adalah data volume produksi dan ekspor PT AGB Palabuhan Ratu selama periode satu tahun

Tabel diatas memperlihatkan perkembangan volume produksi dan ekspor PT AGB Palabuhan Ratu cukup fluktuatif. Pada bulan September 2005 dan Maret 2006 terjadi peningkatan volume produksi ekspor yang tinggi. Hal ini dapat disebakan oleh terjadinya musim ikan dan banyaknya permintaan pelanggan. Sedangkan pada bulan Mei dan Juni 2006 mengalami tingkat produksi dan ekspor yang rendah. Hal tersebut dapat dikarenakan sedang tidak terjadi musim ikan pada bulan tersebut. Perusahaan mampu memproduksi dari bahan baku sampai proses penyimpanan rata-rata 3-4 ton per satu kali produksi per hari, tergantung pada ketersediaan bahan baku. Perusahaan dapat mengekspor sejumlah 12 sampai 200 ton perbulannya.

 

Kegiatan utama perusahaan adalah mengelola Gudang Pendingin. Cold storage atau penyimpanan beku berarti meletakkan produk yang sudah beku di dalam ruangan dengan suhu yang telah dipertahankan sama dan telah ditentukan sebelumnya (misalnya -250C). Pengawetan ikan dengan pembekuan (dengan suhu sampai -500C) akan mampu menghentikan kegiatan mikroorganisme. Pada suhu di bawah -100C proses pembusukan oleh bakteri terhenti. Pembekuan dan penyimpanan beku (cold storage) adalah cara terbaik untuk penyimpanan jangka panjang. Bila cara pengolahan dan pembekuan baik dan bahan mentahnya masih segar, maka akan dihasilkan ikan beku yang dicairkan (thawing) keadaannya masih mendekati sifat-sifat ikan segar. Membekukan produk sampai pada suhu -180C merupakan perlakuan bahan dalam industri pendinginan ikan.

Bakteri pembusuk hidup pada suhu antara 0-30 C dengan suhu optimal 15 C. Bila suhu diturunkan dengan cepat sampai 0 C, maka proses pembusukan akan terlambat. Pada suhu ini, kegiatan bakteri berhenti sama sekali, sedangkan kegiatan enzim-enzim perusak telah lebih dahulu terhambat. Dasar-dasar inilah yang digunakan untuk pengawetan ikan dengan pendinginan termasuk pembekuan.DAPUS Cold storage yang terdapat di Pelabuhan Ratu diseting dengan suhu minimum -250C dan suhu freezer -100C.Komoditas yang dibekukan hanya ikan layur saja. Terdapat sebuah cold storage dan dua buah freezer yang memiliki kapasitas muat yang berbeda-beda.

Kemunduran mutu yang terjadi pada ikan dari aktivitas enzim maupun bakteri dapat ditekan dengan adanya penurunan suhu. Peranan cold storage adalah ketika suatu bahan baku dalam keadaan segar dibekukan dan disimpan pada suhu yang dijaga tetap dingin, kemunduran mutu dapat diperlambat hampir seluruhnya. Beberapa kemunduran mutu pada ikan selama pembekuan tetap berlangsung namun dalam jumlah yang kecil.

Temperatur yang ideal untuk menjaga agar kemunduran bahan baku dapat diperlambat adalah -20°C karena pada suhu ini aktivitas bakteri benar-benar dapat ditekan dan aktivitas enzim berlasngsung sangat lambat. Beberapa bahan baku perikanan yang bahkan dapat disimpan pada suhu yang lebih tinggi dalam waktu yang singkat, namun karena bahan baku tidak dapat selalu terjaga pada storage sesuai waktunya, maka suhu -20°C lebih aman digunakan kapanpun (www.fao.org/wairdocs, 2009).

Pada cold storage sekalipun mutu ikan akan mengalami kemunduran mutu, lama kelamaan penampakan dan rasa ikan akan mengalami kemunduran mutu. Ikan yang dibiarkan mati akan lebih cepat membusuk dibanding ikan yang segera mati (keadaan sangat segar). Faktor-faktor pembatas pada cold storage yang mengakibatkan hal ini adalah Perubahan oleh kandungan lemak, protein, dan dehidrasi (freeze burn). Kandungan lemak ikan yang teroksidasi ditambah oleh enzim pada daging ikan yang terkumpul dapat mempercepat reaksi pembusukan. Perubahan ini terjadi pada suhu yang lebih tinggi dan kecepatan reaksinya dipengaruhi oleh bahan kimia tertentu seperti garam, yang mungkin meningkatkan aktivitas enzim (www.fao.org/wairdocs, 2009).

Keadaan ikan sebelum dimasukkan dalam cold storage dilakukan penanganan pembersihan ikan dengan sanitasi yang terjaga agar mutu ikan sesuai untuk kualitas ekspor. Setelah penanganan, lalu dikemas dalam plastik khusus kemudian dimasukkan dalam cold storage.

Berdasarkan wawancara yang kami lakukan, diperoleh bahwa ikan yang berada dalam coldstorage dengan suhu yang sudah disesuaikan akan bertahan selama 18 bulan. Ikan yang berada di coldstorage tersebut akan diproduksi menjadi ikan pindang. PT tersebut dapat memproduksi hingga 5 ton per harinya. Pengeksporan yang dilakukan mencapai 12-200 ton/bln. Pekerja yang terdapat didalam PT AGB sebanyak 30 sampe 50 orang. Pekerjanya tersebut memiliki tugas yang berbeda-beda diantaranya adalah penyortiran, penimbangan, penyusunan, pengepakkan (penataan) didalam coldstorage.

Pemindangan Hj.Iroh

Pembuatan pindang merupakan suatu cara pengolahan tradisional yang sangat sederhana yaitu merebus ikan dalam suasana bergaram selama jangka waktu tertentu di dalam suatu wadah (Ilyas dan Hanafiah 1980).   Penggunaan garam khususnya untuk produk perikanan tampaknya masih diandalkan, karena garam tidak saja berfungsi sebagai pengawet yang baik, tetapi pada konsentrasi tertentu dapat memberikan citarasa serta dapat menjaga kelembutan daging ikan.   Banyaknya garam yang digunakan tergantung dari ukuran ikan dan tingkat keasinan yang diinginkan.   Untuk ikan yang berukuran sedang jumlah garam yang digunakan adalah 15% – 25% (Moeljanto 1965). 

Tempat pemindangan yang kami datangi saat di Pelabuhan Ratu bernama pemindangan Hj Iroh. Tempat pemindangan tersebut memproduksi pemindangan secara tradisional. Penggunaan alatnya pun masih sangat sederhana, diantaranya masih menggunakan kayu bakar sebagai pemanas, menggunakan air dari sumur melalui menimba, dan lain sebagainya yang masih sangat tradisional. Berdasarkan wawancara yang kami lakukan, proses pemindangan yang terjadi ditempat tersebut melalui beberapa tahap. Diantaranya, ikan segar yang baru ditangkap dicuci bersih menggunakan air dengan membuang jeroan-jeroannya jika ikannya besar tapi jika ikan nya kecil tidak perlu dibuang jeroannya. Kemudian ikan yang sudah bersih di bungkus menggunakan kertas pada sisi perutnya. Menurut pekerja ditempat itu, fungsi dari kertas yang menutupi bagian badan ikan dimaksudkan agar ikan mudah untuk diambil. Proses selanjutnya ikan disusun kedalam sebuah wadah seperti ember besar sesuai dengan ukuran. Proses penyusunan itu dibarengi dengan pemberian garam pada tiap susunan hingga merata. Proses akhirnya adalah merebus ikan diatas tungku kayu bakar selama kurang lebih enam sampai tujuh jam lamanya.

Pemindangan Hj Iroh memproduksi pindang mencapai dua ton untuk satu kali produksi. Proses produksi yang dilakukan tergantung banyak atau tidaknya ikan yang tersedia. Biaya produksi yang harus dikeluarkan setiap dua ton nya adalah sekitar 30-40 juta. Ikan yang digunakan dalam proses pemindangan diantaranya, ikan tongkol, ikan tuna, ikan tembang, ikan lising, ikan cakalang, ikan semar, dan ikan bandeng. Pindang ikan yang paling digemari oleh konsumen adalah pindang ikan tongkol dan tuna. Ikan pindang tersebut dapat tahan hingga setengah bulan. Harga yang dipatok adalah sekitar 600.000/wadah besar. Ikan pindang Hj Iroh tersebut biasanya dipasok ke Cianjur, Bandung, Garut, dan sekitarnya.

Selain pemindangan Hj Iroh, kami pun sempat mewawancarai seorang pedagang pindang ikan tongkol yang berada di dekat tempat pelelangan ikan. Beliau berkata, peluang penjualan pindang ikan itu lumayan baik, hanya saja semua bergantung pada pembeli. Jika sedang ramai maka pindang ikan akan habis sebanyak 2 ember dalam satu hari, tetapi jika tidak ramai hanya habis setengah sampai satu ember. Pindang ikan tongkol tersebut dijual seharga Rp.35.000 untuk ukuran besar, Rp.25.000 untuk ukuran sedang, dan Rp.15.000 untuk ukuran kecil.

Pembesaran Lobster Hj. Badri

Budidaya dan Pengolahan Ikan Sidat di SLK (Stasiun Lapang Kelautan).

Simpulan dan Saran

            Palabuhan ratu adalah salah satu tempat yang memiliki tempat pelelangan ikan, pembudidayaan sidat, pemindangan, pembesaran lobster, tempat pengeksporan ikan tuna dan tempat pembekuan ikan. Ditempat pelelangan ikan kami menemukan beberapa jenis ikan, diantaranya ikan tuna, ikan tongkol, ikan cakalang, ikan kakap, ikan layur dan lain sebagainya. Perusahaan yang menaungi pengeksporan ikan tuna adalah PT. Mitra Jaya, PT. Asia Good Business (AGB) untuk perusahaan yang bergerak dibidang pembekuan ikan. Pemindangan Hj.Iroh, pembesaran lobster Hj.Badri, budidaya dan pengolahan ikan sidat di SLK (stasiun lapang kelautan). Masing-masing dari perusahaan tersebut bergerak dibidang perikanan dan kelautan. Setiap perusahaan memiliki bagian atau tugas yang berbeda-beda namun memiliki satu tujuan yang sama yaitu lebih mengembangkan dunnia perikanan dan kelautan dilain bidang.

            Saran dari kelompok kami adalah semoga difieldtrip pengantar bahan baku yang akan datang  dapat lebih mengunjungi banyak tempat yang tersedia dipelabuhan ratu khususnya yang berkaitan di dunia perikanan dan kelautan, sehingga para praktikan dapat lebih mengenal dibidang tersebut.

 

DAFTAR PUSTAKA

[KKP] Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2012. EKSPOR TUNA SEMAKIN BERGAIRAH. http://www.kkp.go.id 25 Juli 2012 (16 November 2012)112 hal.

Djuhanda, T. 1981. Dunia Ikan. Bandung: Armiko.

Effendi, M.I. 1997.Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta.

Fauzi Akhmad.2005. Kebijakan Perikanan dan Kelautan Issue, Sintesis, dan Gagasan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Fishbase.2005.www.fishbase.org

Gunarso, W. 1985.Tingkah Laku Ikan Dalam Hubungannya Dengan Alat,

Hutomo et al.1985.Sumberdaya Ikan Terbang.Jakarta:Lembaga Oseanografi LIPI.

Ilyas, S dan Hanafiah, T.A.R. 1980. Study on salting-boiling of fish: 1.some changes occurring during processing of brine-boiled fish. In: Pindang Processing Technology. (In Indonesia). Proc. Seminar No. 2, Jakarta.

Iskandar, B.H. dan W. Mawardi. 1997. Studi Perbandingan Keberadaan Ikanikan

Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan. Institut

Karang Nokturnal dan Diurnal Tujuan Penangkapan di Terumbu

Karang Pulau Pari Jakarta Utara. Bulletin PSP 6 : 1. Hal 17-27.

Kriswanto. 1986. Mengenal Ikan Air Tawar. Jakarta: Penerbit BP Karya Baru.

Metode dan Taktik Penangkapan.Diktat Kuliah (Tidak Dipublikasikan).

Moyle, P.B. & J.J. Cech. 1988. Fishes. An Introduction to Ichthyology.Second Edition. Prentice Hall, New Jersey.

Munandar A, Nurjanah, Nirmala. 2009. Kemunduran Mutu Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) pada Penyimpanan Suhu Rendah dengan Perlakuan Cara Kematian dan Penyiangan. Jurnal Teknologi Pengolahan Hail Perikanan Indonesia Vol.7 (2): 88-1010

Munandar, Aris. 2008. Kemunduran mutu ikan nila (Oreochromis niloticus) pada penyimpanan suhu rendah dengan perlakuan cara kematian dan penyiangan. [Skripsi]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Neng Rinta Juniawati. 2007. Analisis Strategi Bisnis Pada PT Asia Good Business (AGB) Palabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.[skripsi]. Institut Pertanian Bogor. Bogor

Nikolsky, G.V. 1963. The Ecology of Fishes.London:Academic Press.

Nurjanah, Setianingsih I, Sukarno, Muldani M. 2004. Kemunduran Mutu Ikan Nila Merah (Oreochromis sp.) selama Penyimpanan pada Suhu Ruang. Buletin Hasil Perikanan. 7(1): 37-4

R Moeljanto.1965.  Prinsip-prinsip dasar pengawetan ikan setjara tradisionil. Jakarta: Departemen Perikanan dan Pengolahan Laut R.I

Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kuntji Indentifikasi  Ikan. Bandung: Binatjipta.

Saanin,H.1985.Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan.Jakarta:Bina Cipta.

Soesanto, V., 1974. Sumber Perikanan di Indonesia. Correspondence Course
Centre. Direktorat Jenderal Perikanan, Jakarta

Tweedie and Harisson.1954.Malayan Animal Life.Toronto:Long mans, Green and Co.

Wewengkang, I. 2002. Analisis Sistem Usaha Penangkapan Ikan Layur (Trichiurus savala) Di Palabuhanratu dan Kemungkinan Pengembangannya. [Tesis]. Program Studi Teknologi Kelautan. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor